Jangan salahkan aku jika suatu saat aku lelah
dan memutar arah. Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kita tidak bertemu.
Aku telah mengupayakan sekuat yang aku mampu. Aku berusaha untuk menghargai
setiap moment dalam hidupmu. Hingga detik ini aku masih tetap berusaha untuk
memberikan yang terbaik untukmu. Namun aku tak bisa terus menjauh dari diriku
yang sebenarnya.
Entah apa yang salah diantara kita. Apakah aku
yang terlalu bebal untuk tidak bisa mengerti keinginanmu, atau kamu yang tidak
bisa menghargai keinginanku. Bermula dari pagi dini hari tadi, aku menyemptkan
untuk mengatakan keinginanku untuk mempunyai akun di path. Aku yakin
teman-temanku pun tidak akan meminta ijin pacarnya untuk membuat akun, dan
meskipun meminta ijin pasti pacar mereka mengijinkannya.
Dengan panjang lebar dan kata-kata yang manis
aku pun mengirimimu sms. Aku kira kamu tidak akan mempermasalahkan hal ini dan
mengijinkanku dengan beberapa syarat. Maka aku pun membuatnya sambil menunggu
balasan sms dari kamu. Aku berfikir mungkin jika kamu tidak menginginkannya aku
cukup tidak perlu mengaktifkan akun itu dan membiarkannya begitu saja. Ternyata
dugaanku tepat, kamu melarangku dibalik kata ‘terserah’ dan embel-embel kata
lainnya yang cukup membuatku sedih. Aku pun membalasnya dengan ‘yaudah ga
apa-apa’.
Menjelang siang kamu belum juga menghubungiku,
aku mengirimimu beberapa pesan namun tidak ada yang kamu balas, hingga
menjelang sore aku mengirimkan sebuah kicauan di twitter dengan isi ‘heyy’ dan
kamu membalasnya ‘buka DM’. Singkat dan mencurigakan.
Kecurigaan aku ternyata benar, setelah aku
membuka pesan di twitter ada dua pesan dari kamu dengan kata yang menyakitkanku
menggunakan kata ‘PUAS’ dengan capslock. Aku membalasnya dan berharap kamu bisa
menyampaikan maksudmu dengan kata yang lebih sopan.
Harapan aku tidak berbuah manis. Setibanya aku
di rumah sebelas sms mendarat di HP ku dari kamu. Semua pesan itu memarahiku,
memfitnahku dan memakiku dengan kata yang jauh lebih menyakitkan dari yang kamu
kirim di twitter. Sejenak aku terdiam membacanya dan menitikan air mata. Aku
sangat sedih dengan pikiran negatif kamu tentang aku yang hanya ingin mendaftar
di salah satu akun jejaring sosial.
Aku mengalihkan pikiranku sejenak, tak ingin
membatalkan puasaku dengan berbagai pikiran buruk, dan aku takut hal itu
membuatku berpikir untuk meninggalkanmu.
Aku mencoba bersikap manis dengan
mengingatkanmu untuk berbuka puasa namun kamu membalasnya dengan jawaban ketus
‘ga usah sms aku’. Kesedihanku berubah menjadi amarah dan saat itu juga aku
mengiyakan keinginanmu. Kamu masih menganggap aku salah dan pembohong. Aku tak
ingin menghubungimu lagi selama kamu masih seperti itu. Dan ingat, itu
permintaanmu. Aku tidak akan menarik omonganku saat puasa tadi.
Hati-hati berbicara! Berulang kali aku
mengingatkanmu untuk menjaga ucapanmu, apalagi pikiran negatifmu terhadapku,
karena aku tak seburuk yang kamu pikirkan. Ingin rasanya aku mengutarakan bahwa
aku tidak suka kamu melarang-larangku untuk hal-hal kecil yang aku suka
lakukan. Aku suka berpetualang, bertemu
orang banyak, berpergian ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, bebas
berekspresi, aku tidak suka dibatasi atau dikekang, aku tidak suka diatur itu
membuatku merasa seperti robot bukan manusia. Aku ingin bertanya, kamu anggap
aku apa? Aku tidak mau jadi bonekamu meskipun aku jadi boneka barbie princess,
aku tidak mau jadi peliharaanmu meskipun kamu memberiku makan banyak dan
sangkar emas, aku ingin jadi diriku sendiri, dan aku ingin kamu mencintaiku
dengan apa adanya aku. Baik atau buruknya aku, aku harap kamu tidak keberatan
dengan itu. Jika kamu tidak suka, kamu boleh meninggalkan aku detik ini juga.
Aku juga ingin mencintai kamu apa adanya bukan dipaksakan untuk jadi orang yang
sempurna mencintaiku.
Do you love me even with my dark side? –Kely
Clarkson
Posted by



0 comments:
Post a Comment