0

11 Juli 2013



Jangan salahkan aku jika suatu saat aku lelah dan memutar arah. Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kita tidak bertemu. Aku telah mengupayakan sekuat yang aku mampu. Aku berusaha untuk menghargai setiap moment dalam hidupmu. Hingga detik ini aku masih tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu. Namun aku tak bisa terus menjauh dari diriku yang sebenarnya.
Entah apa yang salah diantara kita. Apakah aku yang terlalu bebal untuk tidak bisa mengerti keinginanmu, atau kamu yang tidak bisa menghargai keinginanku. Bermula dari pagi dini hari tadi, aku menyemptkan untuk mengatakan keinginanku untuk mempunyai akun di path. Aku yakin teman-temanku pun tidak akan meminta ijin pacarnya untuk membuat akun, dan meskipun meminta ijin pasti pacar mereka mengijinkannya.
Dengan panjang lebar dan kata-kata yang manis aku pun mengirimimu sms. Aku kira kamu tidak akan mempermasalahkan hal ini dan mengijinkanku dengan beberapa syarat. Maka aku pun membuatnya sambil menunggu balasan sms dari kamu. Aku berfikir mungkin jika kamu tidak menginginkannya aku cukup tidak perlu mengaktifkan akun itu dan membiarkannya begitu saja. Ternyata dugaanku tepat, kamu melarangku dibalik kata ‘terserah’ dan embel-embel kata lainnya yang cukup membuatku sedih. Aku pun membalasnya dengan ‘yaudah ga apa-apa’.
Menjelang siang kamu belum juga menghubungiku, aku mengirimimu beberapa pesan namun tidak ada yang kamu balas, hingga menjelang sore aku mengirimkan sebuah kicauan di twitter dengan isi ‘heyy’ dan kamu membalasnya ‘buka DM’. Singkat dan mencurigakan.
Kecurigaan aku ternyata benar, setelah aku membuka pesan di twitter ada dua pesan dari kamu dengan kata yang menyakitkanku menggunakan kata ‘PUAS’ dengan capslock. Aku membalasnya dan berharap kamu bisa menyampaikan maksudmu dengan kata yang lebih sopan.
Harapan aku tidak berbuah manis. Setibanya aku di rumah sebelas sms mendarat di HP ku dari kamu. Semua pesan itu memarahiku, memfitnahku dan memakiku dengan kata yang jauh lebih menyakitkan dari yang kamu kirim di twitter. Sejenak aku terdiam membacanya dan menitikan air mata. Aku sangat sedih dengan pikiran negatif kamu tentang aku yang hanya ingin mendaftar di salah satu akun jejaring sosial.
Aku mengalihkan pikiranku sejenak, tak ingin membatalkan puasaku dengan berbagai pikiran buruk, dan aku takut hal itu membuatku berpikir untuk meninggalkanmu.
Aku mencoba bersikap manis dengan mengingatkanmu untuk berbuka puasa namun kamu membalasnya dengan jawaban ketus ‘ga usah sms aku’. Kesedihanku berubah menjadi amarah dan saat itu juga aku mengiyakan keinginanmu. Kamu masih menganggap aku salah dan pembohong. Aku tak ingin menghubungimu lagi selama kamu masih seperti itu. Dan ingat, itu permintaanmu. Aku tidak akan menarik omonganku saat puasa tadi.
Hati-hati berbicara! Berulang kali aku mengingatkanmu untuk menjaga ucapanmu, apalagi pikiran negatifmu terhadapku, karena aku tak seburuk yang kamu pikirkan. Ingin rasanya aku mengutarakan bahwa aku tidak suka kamu melarang-larangku untuk hal-hal kecil yang aku suka lakukan.  Aku suka berpetualang, bertemu orang banyak, berpergian ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, bebas berekspresi, aku tidak suka dibatasi atau dikekang, aku tidak suka diatur itu membuatku merasa seperti robot bukan manusia. Aku ingin bertanya, kamu anggap aku apa? Aku tidak mau jadi bonekamu meskipun aku jadi boneka barbie princess, aku tidak mau jadi peliharaanmu meskipun kamu memberiku makan banyak dan sangkar emas, aku ingin jadi diriku sendiri, dan aku ingin kamu mencintaiku dengan apa adanya aku. Baik atau buruknya aku, aku harap kamu tidak keberatan dengan itu. Jika kamu tidak suka, kamu boleh meninggalkan aku detik ini juga. Aku juga ingin mencintai kamu apa adanya bukan dipaksakan untuk jadi orang yang sempurna mencintaiku.
Do you love me even with my dark side? –Kely Clarkson

0 comments:

Post a Comment

Back to Top